Senin, 04 Mei 2009


Persepektif Islam Pada Pemimpin

Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk yang memiliki karakteristik tersendiri berdasarkan pada agama, budaya, ras, bahasa, suku bangsa dan sebagainya. Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang menjadi bagian dari kelompok masyarakat.

Seorang individu setiap manusia akan memiliki arti manakala ia dapat meleburkan diri dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam lingkup masyarakat dan menghindari cara mengisolir diri dari sesamanya. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk yang membutuhkan bersosialisasi, sehingga timbulnya kesadaran di antara mereka adanya rasa interdepedensi.

Meskipun demikian, pada dasarnya setiap manusia memiliki kebebasan berpikir dan berpendapat. Adakalanya kebebasan tersebut sering kali menyebabkan banyak perbedaan, baik perbedaan cara berpikir, berpendapat, dsb. Perbedaan-perbedaan tersebut seharusnya dapat di salurkan ke dalam suatu musyawarah agar mencapai kata mufakat, sehingga dapat menghindari perselisihan (Ikhtiklaf).

Tidak sedikit pertengkaran dan perpecahan hanya karena di sebabkan oleh pendapat yang berbeda-beda. Justru perbedaan tersebut merupakan sebuah kekayaan dalam menghasilkan buah pemikiran dalam mengambil suatu keputusan. Namun siapakah orang yang dapat menjadi penengah dalam mengambil keputusan diantara pendapat-pendapat yang berbeda, agar dapat mencapai kata mufakat?

Jika kita membayangkan, apa yang akan terjadi jika sebuah kapal laut yang berlayar di samudra yang luas tanpa seorang nakhoda yang membawanya? Sudah tentu, kapal tersebut tak ubahnya seperti tak memiliki arah dan tujuan kemana akan berlayar.

Beralih dari segmen tersebut, sama halnya dengan penggambaran semula. Apa yang akan terjadi jika sebuah negara tanpa pemimpin? Tentu rakyat akan terombang-ambing tanpa tujuan yang lebih jelas dan lebih parahnya kealfaan pemimpin dalam negara tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah.

Dengan kata lain, manusia harus hidup bersama-sama dan sekaligus bekerja sama secara terbimbing oleh pemimpin.

Pemimpin adalah orang yang dapat menjadi penengah dalam mengambil keputusan tanpa mementingkan tendensi-tendensi pribadinya, dan pemimpin yang dapat merangkul rakyatnya tanpa membedakan kalangan mana pun. Sehingga upaya untuk mencapai tujuan bersama dapat tercapai, begitu pula jalinan antara pemimpin dan orang-orang yang di pimpinnya. Terjalin harmonis.

Untuk mencapai keberhasilan dalam memimpin tentu tidaklah mudah, ini merupakan sebuah pandangan penting yang harus di perhatikan oleh pemimpin muda yang telah berkomitmen. Keberhasilan dalam memimpin tentu dapat di pengaruhi oleh konsep pemikiran setiap pemimpin dan tindakannya mengarah pada tujuan bersama demi rakyat, bangsa dan negaranya.

Menjadi pemimpin muda yang ideal merupakan idaman rakyatnya. Pemimpin yang dapat mengemban amanah rakyatnya untuk pembaruan pemerintahan politik yang lebih optimal. Boleh saja seorang pemimpin memiliki umur yang relatif masih muda, tapi bukan berarti seorang pemimpin muda memiliki kemampuan terbatas dalam memberikan konstribusi yang lebih baik pada rakyatnya.

Siapapun bisa menjadi pemimpin, tak terkecuali dengan umur yang masih muda pun dapat menjadi pemimpin. Yah, paling tidak menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.

Pemimpin muda yang memiliki integritas dalam memimpinnya, dengan kepribadiannya dapat membuat khairu ummah yang dapat menjadi Rahmatan lil alamin ayitu sebaik-baiknya umat yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Umur yang muda bukanlah sebuah patokan untuk mengukur pantas tidaknya seseorang menjadi pemimpin. Dengan jiwa muda dan semangat yang menggebu-gebu dalam dadanya tanpa mementingkan tendensi-tendensi pribadi atau kelompoknya (Partai Politik).

Pemimpin tersebut hendaknya dapat mengembangkan potensi-potensi kepemimpinannya, seperti kualitas pemikiran, potensi emosional, spiritual, intlektual dan akhlak yang baik.

Karena dewasa ini tidak bisa di pungkiri, banyak pemimpin yang memiliki kualitas kecerdasan intlektualnya bagus tapi dengan kelicikannya ia malah memanfaatkan kepandaiannya untuk mengambil kursi jabatan dan setelah itu menjadikanya sebagai ladang uang. Dengan kata lain, mengambil yang bukan haknya. Ia lebih mementingkan tendensi pribadinya dari pada rakyatnya. Bukankah pemimpin yang semacam ini dapat merugikan negara dan rakyatnya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan intlektualnya.

Adanya kecerdasan spiritual, intlektual, dan emosional yang seimbang merupakan sesuatu yang penting di miliki oleh seorang pemimpin. Terlebih lagi pada pemimpin yang umurnya relatif muda, karena umur yang relatif muda biasanya tingkat emosinya masih labil. Hal tersebut harus di pahami betul oleh seorang pemimpin agar menjadi pemimpin muda yang ideal yang dapat mengemban amanah rakyatnya.

Menurut pandangan kepemimpinan (leadership) islam berarti bagaimana islam dapat memberikan penjelasan di lihat dari sudut arahan pada pemimpin itu sendiri, agar dengan kepemimpinannya mampu merubah keadaan yang lebih baik dan makna inti kepemimpinan dalam islam adalah untuk mewujudkan khalifah di muka bumi ini.

Menjadi khalifah fil ’ard atau pemimpin tidaklah semudah membalikan telapak tangan, ia harus memiliki kriteria- kriteria tertentu yang seharusnya di miliki oleh seorang pemimpin, sehingga orang tersebut dapat di katakan layak untuk menjadi pemimpin.

Pemimpin semacam ini adalah seorang pemimpin yang ideal menjadi idaman rakyatnya. Sehingga efektifitas kepemimpinan tidak hanya mampu mempengaruhi perilaku individu rakyatnya untuk melakukan tugas dalam rangka memberikan arahan dan juga menjadi pemimpin muda yang ideal harus memiliki kriteria-kriteria tertentu dalam dirinya, kriteria-kriteria tersebut di antaranya sebagai berikut:

1.Wawasan Luas (Musaqqaful fikri)

"....Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui.” (Q.S. Albaqarah: 247)

Berdasarkan ayat tersebut, menyatakan bahwa setiap pemimpin hendaknya memiliki wawasan keilmuan yang luas, mengenai urusan apapun. Karena dengan ilmu yang dia miliki bisa di jadikan tolak ukur kemampuan seseorang pemimpin dalam membawa yang di pimpinnya.

Penguasaan ilmu yang luas akan mempermudahkannya dalam menganalisis situasi dan kondisi rakyatnya secara objektif. Selain itu tentu dengan ilmu yang dia miliki dapat merumuskan berbagai program yang terencana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya secara efektif dan efisien.

Dengan begitu ilmu yang dia miliki dapat menghindarkan diri dari kepentingan pribadi semata.

Tanpa ilmu, mustahil segala persoalan dan tantangan yang sedang di hadapi akan dapat di pecahkan dengan solusi yang terbaik. Karena setiap tindakan yang di ambil haruslah berdasarkan ilmu. Amal tanpa ilmu menjadi sia-sia begitu pula sebaliknya, ilmu tanpa amal akan sia-sia pula. Ini berarti mencerminkan bahwa adanya keterkaitan antara amal dan ilmu yang tidak bisa di pisahkan.

Kita dapat membayangkan, apa jadinya nasib suatu bangsa jika di pimpin oleh orang-orang bodoh atau orang-orang pintar tapi mendasarkan kepemimpinannya berdasarkan hawa nafsu belaka. Tentulahlah sebiuah kehancuran besar yang akan kita hadapi.

2. Kesehatan Fisik

Berdasarkan Q.S Al baqarah: 247, kriteria pemimpin tidak hanya di dasarkan pada ilmu semata tapi juga fisik yang kuat. Karena orang intlektual (pintar berilmu) tidak akan dapat efektif menggunakan kualitas ilmunya jika dia terbaring lemah di rumah sakit.

Yah, pemimpin yang baik juga harus memiliki fisik yang kuat (alquwwatul jismi). Tugas pemimpin adalah tugas yang berat dan tugas ini hanya dapat di pikul oleh orang-orang yang memiliki kualitas kepemimpinan. Oleh karena itu mengingat beratnya beban tugas yang di pikul sehingga membutuhkan kondisi fisik yang prima.

Pemimpin harus siap dengan kelelahan fisiknya, tidur dengan waktu yang relatif sedikit karena begitu banyak tugas yang harus dia hadapi. Oleh karena itu dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, yang dapat menyebabkan stamina menurun. Seorang Pemimpin harus siap menjaga kesehatannya, agar aktifitas kepemimpinannya tidak terganggu.

3. Akhlak yang baik

Tidak sedikit orang yang berilmu tapi menggunakan ilmunya lepas dari kode etik. Dengan kata lain, memanfaatkan ilmunya untuk menyimpangkan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Kelicikan semacam ini dapat saja terjadi jika seorang pemimpin tidak memiliki akhlak yang baik. Ilmu tanpa amal akan sia-sia, ilmu dengan amal tanpa akhlak dengan memikirkan baik-buruknya suatu tindakan maka yang ada bukanlah kemaslahatan tapi kehancuran.

Sehingga selain memiliki ilmu, seorang pemimpin harus pula memiliki integritas pribadi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.

Ilmu saja tidak cukup bila tidak di sertai dengan akhlak yang baik, seperti yang di dasarkan pada Q.S. yusuf: 55, sudah tak terhitung lagi berapa besarnya kerusakan di muka bumi ini akibat prilaku manusia yang memiliki kelebihan ilmu tapi tidak berakhlak.

Akhlak pemimpin dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap raktyatnya, karena pemimpin adalah contoh bagi rakyatnya dan harus memberikan contoh yang baik.

"dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (Agar mentaati allah) tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu maka sepantasnya berlakulah terhadap perkataan (hukuman kami) kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu)” (Q.S. Al Isra (17):16)

Berdasarkan ayat tersebut, kita melihat bahwa kehancuran bangsa-bangsa di dunia senantiasa di awali dengan rusaknya akhlak pemimpin dan rakyatnya, sehingga pada akhirnya menghancurkan tatanan kehidupan dan perdaban bangsa tersebut.

Jelaslah bahwa seorang pemimpin harus memiliki akhlak yang baik dalam memimpin pemerintahannya.

4. Menumbuhkan kerjasama

seorang pemimpin sebaiknya dapat menjalin komunikasi yang baik dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik dapat mempengaruhi kerjasama yang baik pula dengan siapapun, baik secara intern maupun bilateral dan multilateral. kerjasama yang baik dapat terwujud apabila adanya kesadaran bahwa setiap pemimpin hendaknya menyadari bahwa tak mungkin semua penguasaan dan masalah yang ada bisa di tanggungnya sendiri, tapi ia menyadari betul bahwa timbulnya kerjasama yang baik dapat memberikan suatu pencerahan baru dalam menghadapi berbagai urusan dan memecahkan solusi.

"dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.S. al Maidah:2)

Sebagaimana dalam surat almaidah:2 tersebut, begitu jelasnya bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan siapa pun, sekalipun itu seorang presiden yaitu seorang pemimpin tinggi pada bangsanya, ia pun tak kan mampu mengemban semua amanah hanya pada dirinya sendiri, sudah pasti dia pun akan mengadakan kerjasama yang baik dengan siapapun.

Meskipun pemimpin di tuntut harus memiliki kriteria-kriteria yang menjadikannya layak menjadi seorang pemimpin, bukan berarti ia tidak memiliki kekurangan dalam dirinya. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, namun alangkah naifnya jika tidak mengakui kelemahan yang dimilikinya.

Tidak mungkin setiap pemerintahan akan terhindar dari berbagai masalah, oleh karena itu seorang pemimpin muda hendaknya menyadari betul akan pentingnya sebuah kerjasama yang terjalin dengan baik, demi terwujudnya sebuah dinamika kepimpinan.

Perpaduan empat kriteria tersebut (wawasan yang luas, akhlak yang baik, kesehatan fisik dan kerjasama) merupakan sekelumit kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin muda agar menjadikan pemimpin yang ideal harapan bangsa. Tidak berhenti di situ masih banyak hal-hal yang sebaiknya di ketahui dan di miliki seorang pemimpin, baik yang berada dalam dirinya atau luarnya, dan tentu saja itu bisa di lihatnya dari realita kehidupan yang seharusnya di miliki oleh pemimpin. Karena itulah yang akan menghantarkan keberhasilan kepemimpinannya dalam mensejahterakan masyarakat.

Terlebih lagi seorang pemimpin muda, yang di harapkan dengan semangat mudanya yang menggebu-gebu dapat menghantarkan bangsa ini menjadi lebih bermartabat di hadapan bangsa lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar