
PEMBARUAN PEMILU OLEH RAKYAT
Oleh:nuraeni muthohharoh
Saat perhelatan politik 2009 di mulai, para caleg pun mulai melakukan aksinya, berlomba-lomba melalui iklan, spanduk, poster, baliho, menyebarkan selebaran dan semua yang berbau dengan atribut politik, tak ketinggalan pula dengan kata-kata yang mereka jual sebagai motto mereka yang secara langsung dengan gambling menafsirkan makna yang tersembunyi bahwa mereka adalah calon legislatif yang mempunyai kelayakan untuk di pilih dan ada pula yang secara tersembunyi menggunakan amplop pelican sebagai sarana untuk mempengaruhi rakyat agar memilihnya. Tentu tidak sedikit uang yang mereka gocek dari kantongnya untuk memenangkan ajang pemilu tersebut, namun itu pun kembali terhadap niat mereka masing-masing dalam mencalonkan dirinya sebagai anggota legislatif dengan menggunakan hak pilihnya untuk di pilih.
Meraih suara terbanyak menjadi momentum yang sangat mereka tunggu-tunggu, menjadi dalang di balik layer saat kampanye berlangsung pun di lakukan dalam akrobatik nya dan tak lepas pula dengan program-program, serta janji-janji parpol yang di sampaikan oleh juru kampanye.
Pemilu merupakan masa transisi demokrasi, dimana rakyat dapat menggunakan haknya untuk memilih secara langsung, siapa saja caleg yang layak duduk di kursi pemerintahan untuk mengemban amanat politik. Tapi toh, selogan demokrasi nampaknya masih berlangsung setengah hati dan belum berlangsung secara dramatic berjalan demokratis. Karena tidak bisa di pungkiri, jika pemilu rupanya masih beroprasi dalam bayang-bayang semangat kampanye konvensional yang konservatisme, money politic, kekerasan dan sederet manipulasi lainnya yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi rakyat dalam memilih.
Di balik segmen tersebut yang terpenting adalah bagaimana yang seharusnya kita lakukan sebagai pemilih yang hendak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu untuk memilih demi pembaruan pemerintahan yang lebih baik.
Pemilu merupakan titik vital bagi transisi demokrasi untuk pengembangan kinerja pemerintah.
Semua berkaitan dengan atribut parpol, program-program kerja serta janji-janji yang di sertai hiruk-pikuknya masa kampanye menjadi sebuah kepentingan para caleg khususnya.
Kepentingan kita sebagai rakyat adalah menggunakan hak pilihnya secara demokratis dan memahami betul bahwa pemilu merupakan salah satu titik vital untuk bangsa indonesia.
Dengan berkurangnya golput, sehingga pemilu di katakan berhasil. Dalam hal ini, rakyat dapat berpartisipasi dalam menentukan siapa orang-orang yang bisa di beri amanah untuk mengendalikan pemerintahan, para anggota legislatif yang kelak akan memikirkan negara dan rakyatnya dari pada sekedar kepentingan pribadi untuk memperkaya diri dengan menyimpangkan tugas mereka dan menjadikan kekuasaannya menjadi kursi empuk ladang uang. Sungguh bukan yang demikian kita harapkan
Karena jika para anggota legislatif seperti itu yang dipilih, maka negara dan rakyat pun yang akan di rugikan. Kita melihat bahwa pemerintahan 2009 ini, setidaknya telah berhasil meringkus para pejabat yang terkait kasus dengan KPK, tentu saja mereka adalah orang-orang yang telah gagal dalam menjaga amanat rakyat. Bukankah kita dapat mengambil pelajaran yang demikian, jika sudah terbukti kesalahannya untuk apa di pilih kembali. Memilih politisi busuk sama saja mengantarkan negara ini kedalam kehancuran.
Peristiwa tersebut tentu pelajaran bagi kita, agar dapat menentukan pilihan yang tepat sehingga jabatan-jabatan vital publik di negara indonesia ini tidak jatuh ke tangan-tangan politisi busuk, apalagi yang sudah terbukti kesalahannya baik secara format (dengan bukti-bukti yuridis-administratif) ataukah secara informal saja. Namun jika stigma tersebut hanya cibir-mencibir dari mulut ke mulut semata tanpa bukti yang relevan, hal tersebut dapat mencatat hitamkan karir politik seseorang. Tentu saja ini dapat menjadi fitnah yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi pembunuhan karakter (Character assassination) secara sistematik.
Komunikasi Politik
Menghindari Golput dan memilih caleg demi pembaruan politik yang lebih optimal tentu membutuhkan pertimbangan dan kritisme dalam kesadaran dalam berpolitik.
Tentu saja pertimbangan tersebut bukanlah asumsi dari mulut-ke mulut semata. Adanya komunikasi politik antara elit politik dan masyarakat melalui pemilu ini sebagai tempat untuk mengenal karakter-karakter, pelacakan karekter politik, program-program kerja dsb, agar pemilih tidak salah memilih.
Pemilih harus kenal betul orang-orang pilihan mereka. Sementara untuk mengenalnya di perlukan penilaian yang netral, tidak melebih-lebihkan kebaikannya dan tidak pula menutup-nutupi kesalahannya.
Perlunya kesadaran politik secara kritis di miliki oleh para pemilih agar dapat mempertimbangkan kualitas dari calon-calon yang kelak di harapkan menjadi para elit politik yang dapat memberikan konstribusi perbaikan yang optimal terhadap penentuan nasib bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar