Senin, 04 Mei 2009


Mencetak Generasi Berkualitas dengan Pendekatan Holistik
oleh: Nuraeni Muthoharoh

Pendidikan anak dalam keluarga merupakan prioritas utama bagi perkembangan anak dan sebagai fondasi kepribadian mereka. Perkembangan anak dapat ditentukan sejauh mana pengaruh peranan seorang ibu dalam membentuk kepribadian yang berkualitas. Karena ibu lah yang paling dominan dan paling banyak membantu anak. Bahkan dapat di katakana bahwa kebahagiaan dan kesuksesan seorang anak sangat di tentukan oleh peranan ibu dalam mendidik anaknya.
Mendidik anak untuk mencetak generasi yang berkualitas bukan sesuatu yang mudah bagi seorang ibu, di mana seorang ibu harus paham dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik utama, pengasuh dan pembina anak. Karena ibu lah orang dan tempat pendidikan pertama yang didapatkan oleh anak.
Namun pemahaman ibu tidak hanya sebatas esensi keberhasilan pendidikan anak melalui Ta’lim (Pengajaran yang tekanannya pada aspek kognitif atau intelektual), tapi lebih dari itu ibu juga harus tahu bahwa perkembangan anak membutuhkan pendidikan yang menyeluruh (Holistik) agar anak dapat menjadi generasi berkualitas dan manusia yang baik (Insan kamil), serta siap dalam mengarungi hidupnya. Namun, ada beberapa hal yang harus di perhatikan ibu untuk mewujudkan pendidikan yang menyeluruh, di antaranya sebagai berikut :

• Faktor Edukatif
Pendidikan secara holistik sebaikya diterapkan ibu sejak anaknya masih dini, karena pada usia tersebut seorang anak cukup potensial untuk diarahkan, serta dibina. Anak mempunyai perkembangan mental, spiritual dan moral yang potensial untuk dibangun untuk mewujudkan karakter kepribadian dan jati diri yang baik.
Anak usia dini biasanya lebih suka bermain, melakukan percobaan terhadap sekitarnya, mereka juga ingin mengetahui dengan pengalaman dan keterampilannya. Selain itu juga tak jarang mereka meniru apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Di sana mereka mulai belajar untuk memahami orang lain yang berada di sekitarnya, sehingga mereka membentuk pengakuan terhadap dirinya.
Pada saat seperti ini sebaiknya ibu tidak hanya terpaku pada aspek Tarbiyah saja, yaitu terpaku pada pemeliharaan dan asuhan yang bersifat fisik tapi ibu juga harus memberikan pengajaran yang menekankan pada aspek kognitif atau intelektual mereka. Karena pada fase tersebut, anak-anak cenderung banyak bertanya tentang apa yang mereka ketahui dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, mereka rasakan dan mereka pikirkan. Sudah tentu ibu harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan benar sehingga intelektual anak mulai di bangun dengan Transfer of knowledge dan Transfer of value, baik nilai-nilai islam ataupun nilai-nilai moral yang harus mereka ketahui.
Karena menanamkan nilai-nilai tersebut pun penting, sebaiknya ibu tidak hanya mengorientasikan pada Ta’lim semata tetapi juga terhadap pembinaan Ta’bid, yaitu dengan pembinaan budi pekerti dengan pengenalan Tsaqofah Islam, sehingga adanya keseimbangan antara unsur iman, ilmu dan amal yang ditanamkan pada anak-anak, agar kelak mereka siap ketika telah baligh.

• Faktor Komunikasi
Transfer of knowledge dan Transfer of value yang di lakukan ibu terhadap anaknya dapat terjalin dengan baik, apabila ada komunikasi antara ibu dengan anaknya. Komunikasi yang baik tidak hanya dalam berbicara saja, tetapi juga ibu dapat menjadi pendengar yang baik pula.
Terjalinnya komunikasi yang baik merupakan langkah utama menuju keluarga yang sukses dan bahagia. Justru itu, ketika anak lebih berani menceritakan masalah pribadinya terhadap teman-teman sebayanya, hal ini dapat terjadi ketika anak merasa lebih nyaman bercerita pada orang lain dari pada ibunya sendiri. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, karena kurangnya jalinan komunikasi yang baik dan masih menganggap bahwa ibu adalah momok yang tidak bersahabat untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Begitu pula anak-anak yang menjalani hidup tanpa banyak kata-kata, tanpa banyak diajak bicara sehingga kurangnya interaksi dengan lingkungannya, lama-kelamaan akan menipiskan rasa empati dan kepekaan terhadap orang lain. Maka ia akan mengundurkan diri dari pergaulan, anak seperti ini akan merasa puas dengan kesendiriannya dan tak akan mempedulikan orang lain.
Komunikasi antara ibu dan anak sangatlah penting. Semakin banyak anak berkomunikasi, maka semakin banyak pula pelajaran yang ia dapatkan. Ia akan belajar tentang dirinya sendiri, tentang orang lain dan tentang dunianya. Sehingga ia dapat memiliki kecerdasan emosional yang mendorong anak bersosialisasi dengan masyarakat kelak. Ini merupakan salah satu bekal yang penting untuk anak.
Komunikasi yang baik tidak hanya sekedar komunikasi saja tanpa memiliki nilai. Komunikasi merupakan perantara tercapainya Transfer of knowledge dan Transfer of value, komunikasi yang bermutu ketika komunikasi tersebut diselipkan kata-kata edukatif. Di samping itu pula, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh ibu ketika berkomunikasi dengan anaknya yaitu jangan seperti hakim yang sedang menghakimi terdakwa, jangan pula seperti polisi yang sedang mengintrogasi, dan hindarilah kesan tidak peduli terhadap apa yang dia bicarakan, apalagi memotong dan mengkritik pembicaraanya. Karena apabila hal itu di lakukan, anak akan semakin menghindari komunikasi dengan ibunya sehingga proses Transfer of knowledge dan Transfer of value pun akan terhambat.
Maka berikanlah kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang apapun, sekalipun itu tentang masalah pribadinya. Perhatikanlah apa yang mereka bicarakan dan berikanlah respon positif, hindarilah kesan mengkritik tapi gantilah dengan nasihat-nasihat yang baik jika perlu dapat disertai dengan dalil alquran dan hadist untuk memperkuat nasihat tersebut. Sehingga anak merasa nyaman dan dihargai ketika ia berkomunikasi dengan ibunya.

• Faktor Organobiologik
Melalui faktor organobiologik, ibu harus mengetahui asupan-asupan gizi yang dibutuhkan oleh anaknya. Karena gizi yang baik dan cukup dapat membantu perkembangan susunan syaraf pusat (Otak) dan kondisi organ tubuh agar dapat berkembang dengan baik pula.
Keadaan gizi yang baik dapat merangsang tumbuh kembang otak dalam struktur organiknya dan fungsional otak tersebut. Meskipun pada dasarnya struktur otak manusia dilahirkan sama, jika makin banyak asupan-asupan gizi yang masuk, maka jaringan otak akan tersusun dan berfungsi dengan baik.
Misalnya saja, tumbuh kembang otak dapat dipengaruhi oleh gizi protein. Meski pada dasarnya perkembangan otak sudah dimulai sejak anak berusia 3 – 5 tahun, baik dalam jumlah sel sudah terbentuk sempurna dan memiliki fungsi yang baik dengan catatan apabila gizi proteinnya cukup. Tapi apabila gizi proteinnya masih jauh dari yang di butuhkan oleh anak tersebut, maka perkembangan otaknya akan terhambat dan mengalami cacat mental atau idiot.
Begitu pentingnya ibu mempertimbangkan dan memperhatikan gizi protein yang di butuhkan oleh anaknya, karena fungsional otak yang baik dapat mempengaruhi perkembangan mental intelektual, mental emosional dan mental sepiritual pada anak.
Tidak hanya otak, tubuh pun memerlukan gizi yang seimbang. Karena tubuh yang sehat merupakan salah satu alat investasi masa depan untuk membentuk generasi yang berkualitas.
Maka ibu pun harus mengetahui asupan gizi yang di butuhkan oleh anaknya, misalnya: agar fungsional mata untuk penglihatan baik maka membutuhkan vitamin A, untuk pertumbuhan tulang dan kekuatannya maka membutuhkan kalsium, vitamin B, zat besi dan masih banyak lagi asupan gizi yang dibutuhkan oleh anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan organ tubuhnya dan semua itu dapat diperoleh dari sayuran, ikan, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat, susu dan juga vitamin dalam bentuk tablet, sirup ataupun kapsul.

• Faktor Psiko-Edukatif
…“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu apapun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam keluargamu.”…(Q.S. Asy-Syuura: 23)

Keluarga adalah aktor yang sangat menentukan terhadap perkembangan anak. Dalam hal ini, ibu sebagai actkr utama yang dominant mempengaruhi perkembangan anak, baik perkembangan fisik maupun perkembangan psikisnya atau kejiwaan.
Untuk terwujudnya perkembangan psikis yang baik, ibu dapat melakukannya dengan pendekatan kasih sayang. Pendekatan kasih sayang merupakan pendekatan yang mengacu terhadap sisi kejiwaan anak, dimana perkembangan anak secara kejiwaan amat di pengaruhi oleh sikap orang tua dalam memberikan kasih sayang dan kepribadian mereka ketika anak mengalami proses imitasi dan identifikasi.
Kasih sayang merupakan kunci sukses dari keberhasilan orang tua mengantarkan anak mereka untuk menikmati indahnya masa kanak-kanak dan mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi yang berkualitas dalam menyongsong masa depan.
Namun ada beberapa paradigma ibu kurang bijaksana dalam mengartikan kasih sayang, di antaranya:
1. Ibu yang lebih sibuk berkarir biasanya dalam mengungkapkan kasih sayang kepada anak, lebih banyak memberi materi dari pada keberadaannya bersama anak di rumah dan menyerahkan anak kepada pembantu yang hanya menjaga, memberi makan, dan menggantikan pakaian saja tanpa memberikan kasih sayang yang tulus. Subsitusi kebutuhan kasih sayang dengan materi dapat mempengaruhi perkembangan psikis anak terhambat.
2. Anak-anak mempunyai dunianya sendiri tapi pada fese seperti ini masih banyak ibu yang kurang memberikan kebebasan pada anaknya untuk berekspresi, mengembangkan kreativitasnya lewat bermain ataupun bertingkah laku sesuai dengan imajinasinya. Dengan alasan peraturan yang ketat untuk kebaikan anak, padahal pengekangan tersebut dapat menyebabkan anak akan merasa kehilangan dunianya.
3. Sikap orang tua yang membanding-bandingkan antara anaknya dengan anak orang lain yang lebih cerdas. Bukan paradigma yang akan mendorong anak tersebut menjadi lebih cerdas melebihi anak orang lain, justru sebaliknya tindakan orang tua seperti itu hanya akan membuat anak semakin tertekan dan pesimis untuk berusaha.
4. Penerapan kedisiplinan ibu pada anaknya merupakan bukti kasih sayang, tapi penerapan kedisiplinan yang di sertai dengan kekerasan seperti menampar, menjewer, berkata kasar, hal ini bukan lagi kasih sayang tapi lebih mengacu penganiayaan. Anak tidak hanya menderita fisik, bahkan secara psikir pun ia akan depresi. Dapat menimbulkan amarah yang berkobar dalam hati. Selain itu juga, ibu akan terjerat pelanggaran hukum pada undang-undang perlindungan anak dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
5. Konsep ibu yang berlebbihan dalam mengungkapkan kasih sayang tanpa menasehati ketika anaknya salah, bahkan membenarkannya dan ketika anak tidak pernah mendengar kat “Tidak” dari ibunya, ibu selalu menuruti semua keinginannya tanpa mempertimbangkan pengaruh baik dan buruknya. Hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan dalam kehidupan sosialnya di masa depan.
6. Adanya disfungsi keluarga, baik disfungsi peranan ayah atau disfungsi peranan ibu yang di sebabkan oleh kematian atau pun perceraian. Hal ini dapat mempengaruhi sisi kejiwaan anak menjadi lamban.
Anak adalah titipan illahi, mereka bukan objek yang dapat di paksa untuk memenuhi dan melaksanakan semua peraturan yang telah di tetapkan oleh orang tuanya. Mereka memiliki dunianya sendiri, dimana ibu sebagai pembimbing yang mengarahkan pada orientasi perkembangan kejiwaan anak yang baik yaitu dengan kasih sayang.
Demikianlah pendidikan yang semestinya di terapkan di rumah oleh keluarga, sebagai fondasi agar anak menjadi generasi yang berkualitas yang siap memasuki jenjang kehidupan selanjutnya.
Untuk mewujudkan pendidikan holistik tentu di pengaruhi oleh Faktor Edukatif, Komunikasi, Organobiologik, dan Psiko-Edukatif yang mengacu pada perkembangan mental spiritual, intelektual dan emosional anak.
Perlu di pahami bahwa sesungguhnya ibu bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak secara holistik. Namun, memang tidak bisa di pungkiri bahwa ibu adalah orang yang dominan pengaruhnya terhadap keberhasilan anak.
Mencetak anak menjadi generasi berkualitas adalah harapan semua ibu, namun bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk di realisasikan. Justru itu ibu harus cerdas dalam memahami tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik anak, agar anak dapat tumbuh menjadi seseorang yang kelak memiliki integritas dan siap menjadi generasi yang unggul. Sehingga tercapailah orientasi ibu dalam mendidik anaknya untuk menjadi generasi yang berkualitas.

“Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Setiap lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya, setiap wanita bertanggung jawab dalam peraturan rumah suaminya. Dan setiap sang istri yang memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah asuhannya.” (HR. Bukhari, dalam bab Al Jum’ah (11), bab Al washayaa (9), dan Muslim, dalam bab Al Imarat (20).

di terbitkan oleh: http://kharisma.de

Tidak ada komentar:

Posting Komentar