Jeritan Hari Pahlawan Saat Ini
Oleh: nuraeni muthohharoh
10 november 1945, 63 tahun silam ketika bendera merah-putih-biru di kibarkan di hotel Yamato di Surabaya oleh para penjajah, yang telah menginjak-injak martabat bangsa Indonesia dan berusaha merebut tanah air Indonesia kembali.
Kibaran bendera merah-putih-biru di tanah Surabaya pada saat itu, telah membakar semangat juang di dada para pahlawan untuk mengibarkan Sang saka merah putih di atas tanah bangsanya sendiri.
Mereka berjuang dengan semangat yang menggebu-gebu, mengorbankan nyawa dan darahnya untuk sebuah martabat bangsa dan untuk mempertahankan kemerdekaan negerinya yang baru saja di miliki.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban untuk sebuah cita-cita ‘Merdeka’ dan bebas dari penjajah.
Air mata dan darah mereka seakan menjadi saksi ketika peristiwa berdarah itu terjadi dan kemerdekaan pun berhasil di rebut kembali dari tangan para penjajah dan penjajah pun tak lagi menginjakan kakinya di negeri tercinta ini. Sejak saat itulah pada tanggal 10 November selalu di peringati sebagai hari pahlawan.
Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama pernah mengatakan dalam pidatonya, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sejarahnya, serta menghargai jasa para pahlawannya.
Sesungguhnya para pahlawan yang telah berjuang dengan kobaran semangat di dada mereka pada zaman revolusi dulu, jelas memiliki harapan dan cita-cita mulia untuk bangsanya. Agar bangsa ini dapat berdiri memiliki kemerdekaan yang seutuhnya, serta menjadikan bangsa yang bermartabat dan mereka rela berkorban agar anak cucunya kelak dapat hidup nyaman.
Kini situasi telah berubah. Penjajah tidak lagi menginjakan kakinya di tanah Indonesia dan tidak lagi bebas mengibarkan benderanya di atas Sang saka merah-putih. Kini bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat berkat jasa para pahlawan dan keikhlasan mereka dalam berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di atas penindasan penjajah. Mereka telah mewarisi kemerdekaan itu kepada kita semua warga Negara Indonesia. Telah gugur pahlawan kita.
Namun kini mereka seperti menangis kembali untuk negerinya, ketika peringatan hari pahlawan untuk mengenang jasa mereka, peringatan itu tanpa makna sama sekali. Bahkan peringatan itu sifatnya hanya sebatas seremonial belaka tanpa memiliki makna.
Pernahkah kita bertanya pada sejumlah siswa di sekolah, apa yang mereka rasakan ketika memperingati hari pahlawan dengan upacara. Apakah mereka dapat merasakan betapa pedihnya perjuangan para pahlawan pada saat itu dan sehingga tumbuh di dalam hati mereka untuk mengisi kemerdekaan dengan mengharumkan nama bangsanya, atau kah mereka sama sekali tidak merasakan apa-apa ketika memperingati hari pahlawan dengan upacara, yang mereka lihat hanyalah berkibarnya Sang saka merah-putih dan yang mereka dengar adalah lagu Indonesia raya. Hanya sebatas melihat dan mendengar, tanpa memikirkan apa makna yang tersirat di dalamnya.
Mereka seperti menangis kembali, ketika menatap bangsa Indonesia berada dalam kemelut masalah pada saat ini.
Masalah yang kita hadapi pada saat ini bukan lagi bagaimana kita mengusir para penjajah dari negeri kita, karena para penjajah yang memiliki bendera merah-putih-biru itu tidak lagi menginjakan kakinya dan telah mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tapi kini para penjajah itu hadir kembali dengan topeng yang berbeda, yang mengatas namakan dirinya sebagai pahlawan. Pahlawan untuk rakyatnya, pahlawan yang memperjuangkan hak untuk rakyatnya tapi persoalannya itu hanya topeng belaka.
Mereka mengatas namakan dirinya sebagai pahlawan untuk rakyat tapi malah menusuk rakyatnya dari belakang.
Para pahlawan dulu menduduki kursi jabatan di pemerintahan adalah karena mereka mempunyai cita-cita mulia yaitu agar kelak rakyatnya dapat merasakan kemerdekaan atas hak mereka sebagai warga Negara Indonesia. Tapi orang-orang yang mengatas namakan dirinya pahlawan pada saat ini, dengan sejuta janjinya yang muluk-muluk agar mereka dapat menduduki kursi empuk di pemerintahan. Setelah mereka mendapatkan kursi empuk itu, mereka tidak lagi berbicara tentang rakyatnya, tentang kemajuan untuk rakyatnya, tentang pendidikan untuk rakyatnya, tentang kemakmuran untuk rakyatnya. Mereka melupakan itu semua, bahkan mereka seakan tidak pernah mengatakn janji-janji itu. Tapi kini mereka berbicara tentang bagaimana memakmurkan diri mereka sendiri dan keluarganya tanpa mempedulikan jeritan dan tangisan rakyatnya di balik bilik-bilik kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan.
Rupanya rakyat semakin terinjak-injak oleh orang-orang yang mengatas namakan dirinya sebagai pahlawan, tapi sesungguhnya mereka adalah penjajah sesungguhnya setelah kemerdekaan. Penjajah untuk bangsanya sendiri, penjajah untuk rakyatnya sendiri.
Hal ini membuktikan betapa politik bangsa Indonesia saat ini berada pada titik kemelaratan serta apatisme yang sudah kronis.
Maraknya korupsi secara berjamaah oleh para koruptor yang mengatas namakan dirinya sebagai pahlawan untuk negerinya. Kemudian seenaknya mencuri uang Negara secara berjamaah tanpa memikirkan jeritan-jeritan rakyatnya.
Ketika rakyat menangis, mereka justru sibuk berlomba-lomba memakmurkan diri mereka sendiri. Begitu banyak hutan-hutan Indonesia yang habis di babat untuk di jadikan ladang uang oleh mereka. Seakan mereka tidak lagi peduli akibat yang akan terjadi ketika hutan-hutan yang dulu di jadikan sebagai tempat peresapan air, kini nyaris habis.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (Akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (Ke jalan yang benar).” (Q.S.Ar-Rum: 41)
Tidak hanya tentang kisah hutan yang nyaris habis saja, karena keserakahan mereka untuk memakmurkan diri mereka sendiri ternyata tidak puas jika hanya menjadikan hutan saja sebagai lading uang yang hendak di panen. Di samping itu, tidak sedikit juga anggaran-anggaran Negara untuk kepentingan rakyat, berhenti di kantong-kantong jas mereka. Sehingga tampak lah anggaran untuk rakyat tak jauh berbeda, seperti sebuah keclakan sisa-sisa air yang menetes dari atas gelas yang kosong.
Sesungguhnya merek adalah penjajah untuk rakyatnya, penjajah untuk bangsanya. Penjajah di balik balutan jas yang tampak berwibawa.
Korupsi seperti penyakit kronis stadium akhir yang sulit untuk di sembuhkan. Entah telinga mereka yang tak lagi sanggup mendengar kebenaran ataukah mata mereka yang tak sanggup lagi melihat dengan hati nurani, para koruptor itu justru berlomba-lomba untuk mengeruk uang Negara. Dan lebih parahnya, virus-virus itu seperti telah menyebar di hampir semua jajaran, baik yudikatif, legislatif maupun eksekutif. Hamper semua jajaran itu terjangkit virus korupsi yang akut.
Bukankah kita melihat sendiri dari berbagai media, ketika tahun 2008 menjadikan maraknya korupsi berjamaah. Bahkan seorang jaksa agung yang seharusnya pun yang seharusnya mempertanggung jawabkan posisinya sebagi seorang jaksa tapi seakan tidak pernah mengerti tentang hukum.
Andaikata para pahlawan yang telah gugur dahulu bangkit kembali untuk melihat bangsa yang pernah mereka perjuangkan, tentu mereka akan menangis kembali ketika melihat para penjajah itu bukan datang dari bangsa asing, tapi justru penjajah itu datang, tumbuh dan berkembang biak dari bangsanya sendiri yaitu bangsa Indonesia.
Betapa tidak, mereka akan merasa miris ketika hari pahlawan itu seakan tidak memiliki makna untuk bangsanya sendiri.
Bukan piala atau piagam yang mereka harapkan dari bangsanya, tapi sebuah penghargaan dengan mengenang jasanya dan mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang lebih bermakna dari pada sekedar korupsi berjamaah.
Sudah saatnyalah para elit politik behenti memikirkan diri mereka sendiri, sudah semestinya mereka meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur untuk menyelamatkan negeri ini supaya bisa bertahan.
Sehingga 10 november sebagai hari pahlawan bukan sebatas seremonial belaka, lebih dari itu memiliki makna atas perjuangannya untuk berdirinya Negara Indonesia sebagai Negara yang bermartabat.
Sekuntum bunga untukmu, pahlawanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar